Masuki Kemarau Panjang, Kukar Bersiap Hadapi Ancaman Karhutla dan Kebakaran Permukiman

img

Kepala BPBD Kukar, Setianto Nugroho Aji. (Kriz)

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR:  Hari-hari tanpa hujan mulai membayangi Kutai Kartanegara (Kukar) seiring datangnya musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga awal November 2026. 

Kondisi cuaca yang semakin panas dan kering membawa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga kawasan permukiman, membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar meningkatkan kewaspadaan di sejumlah wilayah rawan.

Kepala BPBD Kukar, Setianto Nugroho Aji, mengatakan musim kemarau mulai berlangsung pada Juli, meski hujan masih dapat terjadi sesekali, periode tanpa hujan diperkirakan bisa mencapai sekitar 10 hari sehingga kondisi lingkungan menjadi lebih kering dan panas.

“Diperkirakan musim kemarau tahun ini akan berlangsung hingga awal November, jadi cukup lama. Meskipun sesekali masih ada hujan, hari tanpa hujan diperkirakan bisa mencapai sekitar 10 hari,” ujarnya saat ditemui di Tenggarong pada Sabtu (18/7/2026).

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD memberikan perhatian terhadap sejumlah wilayah yang memiliki potensi karhutla. 

Muara Kaman menjadi salah satu kawasan yang paling diwaspadai karena sekitar 70 persen wilayahnya merupakan lahan gambut yang membutuhkan penanganan khusus apabila terbakar.

"Lahan gambut sangat sulit dipadamkan. Penanganannya tidak bisa menggunakan cara biasa, tetapi harus memakai peralatan khusus yang menyuntikkan air hingga beberapa meter ke dalam tanah. Karena itu Muara Kaman menjadi atensi kami dan juga perhatian secara nasional," jelasnya.

Selain Muara Kaman, potensi karhutla juga terdapat di Samboja, Samboja Barat, Loa Janan, Muara Badak, Tenggarong Seberang, Kenohan, serta sejumlah wilayah lainnya. 

BPBD terus melakukan patroli untuk memantau kawasan yang dinilai rawan selama musim kemarau.

Setianto meminta masyarakat menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar dan tidak meninggalkan aktivitas pembakaran sampah tanpa pengawasan. 

Sebab, lanjutnya, kondisi kering ditambah tiupan angin dapat membuat api dengan cepat membesar dan merambat ke area lain.

“Pada musim kemarau, api sangat mudah membesar akibat tiupan angin dan bisa merambat ke tempat-tempat lain yang mudah terbakar. Jadi, pada musim kemarau ini kita harus lebih fokus menjaga lingkungan masing-masing,” jelasnya.

Ancaman kebakaran juga tidak hanya berada di kawasan hutan dan lahan. 

Kebakaran permukiman dapat terjadi di seluruh wilayah sehingga masyarakat diminta memeriksa kondisi instalasi listrik, memastikan peralatan elektronik dalam keadaan aman ketika meninggalkan rumah, serta tidak meninggalkan sumber api.

“Apabila masyarakat maupun teman-teman relawan menemukan titik api, baik di lahan, hutan maupun kawasan permukiman, atau menemukan sumber panas dan sumber api yang berpotensi menimbulkan kebakaran, segera laporkan kepada kami agar bisa segera ditangani,” pungkasnya. (Kriz)